Sabtu, 11 Oktober 2008

CDI Racing Vs CDI Unlimiter Fungsi Limiter CDI


Banyak yang alergi terhadap CDI limiter. Terutama CDI bawaan pabrik motor. Katanya bikin motor tidak bertenaga dan loyo. Itu karena putaran mesin dibatasi 9.500 rpm dan jika digeber lebih tinggi lagi akan mbrebet. Jadinya mesin tidak teriak lantang. Wuengg…. bet…bet..

Padahal limiter atau pembatas putaran punya maksud. Bukan suatu kelemahan atau kebodohan pabrikan, lho. Justru Si Jepang sudah berpikir maju ke depan. Soalnya limiter memang cocok dipakai untuk motor harian alias bukan buat balapan.

Banyak pertimbangan, kenapa motor harian harus diberi limiter. Pertama dan yang penting bagi yang tahu karakter mesin bisa lihat dari grafik hasil dynotest. Untuk motor harian, tenaga maksimum berkisar di gasingan 6.500-9.500 rpm.

Sebagai contoh diambil dari spesifikasi teknik asli pabrik. Yamaha Jupiter MX 135LC, tenaga maksimum 11,33 dk pada 8.500 rpm. Contoh lain Satria F-150 power maksimum 11 dk pada 9.500 rpm. Padahal putaran mesin MX dan Satria F bisa digeber lebih tinggi dari 9.500 rpm. Namun tenaga maksimumnya di rpm 8.500 dan 9.500 rpm itu.

Angka lebih kecil lagi boleh lihat di Supra X 125. Power terbesar 9,5 PS (9,3 dk) pada 7.500 rpm. Padahal Supra X 125 ini bisa digeber sampai 9.500 rpm juga. Namun tenaga terbesarnya justru di 7.500 rpm itu. Meski digeber lebih tinggi lagi percuma, tenaganya akan drop.

Perancang atau orang dari bagian Reseaerch and Development (R&D) pabrikan tahu betul soal itu. “Makanya putaran mesin dikasih limiter. Supaya tidak sia-sia dan bikin bensin terbuang percuma,” analisis Pendy Suryanda dari bagian training roda dua PT Indomobil Niaga International (IMNI).

Pak Pendy mengajak lihat grafik hasil dynotest milik Bintang Racing Team pada Suzuki Satria F-150. Kurva power menanjak dari rpm bawah sampai 9.000 rpm dan didapat tenaga maksimal 12,7 dk. Setelah lewat dari gasingan 9.000 rpm, kurva power akan ngedrop alias turun drastis.

Jadi, akan percuma jika gasingan mesin tidak dibatasi alias unlimiter. “Hasilnya tenaga ngedrop tapi sedotan bensin bertambah deras. Ini yang bikin boros bensin,” ungkap pria berkacamata itu.

Pertimbangan lain memasang limiter di motor standar untuk didapatkan endurance yang tinggi. Putaran mesin dibatasi bikin awet komponen. Maklum material yang dipakai memang untuk motor harian alias bukan buat balap. Pantas jika pabrikan berani kasih garansi 3 tahun.

MOTOR BALAP BUTUH UNLIMITER

Karakter motor balap memang beda. Tenaga maksimum letaknya di rpm 11.000 atau lebih. Jika masih menggunakan CDI standar yang limiternya di 9.500 rpm, powernya tidak akan keluar. Soalnya tertahan putaran yang juga sudah dibatasi.

Untuk itu limiter harus dibuang. Atau limiter digeser di 17.000 rpm misalnya. Maksudnya, supaya tenaga motor keluar semua. Ini maksudnya pilih CDI unlimiter atau CDI racing. Cocoknya di motor balap.

Aman Berkendara: Dibonceng Bukan Pasangan

Entah karena canggung, boncenger cewek enggan duduk rapat sama pengendara. Umumnya, mereka jaga jarak. Maklum, si pengendara bukan yayang atau suami tercinta. Makanya jadi atur jarak gitu. Wah, macam Metromini aja! Sebenarnya duduk duduk berjarak bikin pengendalian jadi nggak karuan. Pengendara jadi terasa berat. Belum lagi kalau saat melakukan manuver. Jusri Pulubuhu menyatakan dalam berkendara tidak ada hubungan atau tidak. Lebih diutamakan posisi duduk yang benar. ”Ini untuk keselamatan pengendara juga boncenger”, jelas Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) itu.

Duduk rapat dengan pengendara untuk menjaga keseimbangan dan motor tidak bergeser. ”Dengan menempel ke pengendara, maka titik keseimbangan antara motor dengan pengendara dapat dijaga”. Posisi duduk jangan sampai melawan arah pengendara. Ikuti gerak arah pengendara,” tambah pria berkantor di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu lagi.

Kedua lutut juga harus merapat atau menggapit pinggul pengendara. ”Agar pengendara bisa menjaga irama kendaraan dengan boncenger,” bilang Anggono Irawan, Kepala Instruktur Safety Riding, PT Astra Honda Motor (AHM).

Boncenger ngak usah sungkan saat tangan merapat atau merangkul pinggang yang membinceng. Dengan begitu, jika ada gerak mendadak yang dilakukan pengendara bisa diikuti boncenger. ”Kalau sungkan berpegangan atau memeluk pengendara, minimal paha mengapit ke pinggul pengendara,” Wanti Jusri lagi.

Tapi ini kurang mendukung ketika terjadi gerakan ke depan atau ke belakang yang mendadak, kemungkinan jepitan gampang lepas, karena tidak didukung pegangan erat dan pengendara mudah kehilangan kestabilan.

Jadi, ngak perlu sungkan. * Tining



Sumber : Motor Plus, edisi 365, Sabtu 25 Februari 2006

Safety Riding

Menjalankan Motor Dengan Aman #2

Untuk menjalankan motor dijalan pengendara dihadapkan kepada berbagai permasalahan yang akan ditemukan pada saat berlalu lintas dijalan. Beberapa tip berikut patut dipertimbangkan sebelum mengunakan motor :


Gunakan Motor yang Sesuai
Pertama anda harus memilih motor yang sesuai dengan pengendara yang akan menggunakan, harus pas dengan badan pengendara, kaki harus bisa menjejak ke tanah. Sepedamotor setidak-tidaknya harus dilengkapi dengan lampu utama (jauh dan dekat), lampu belakang dan lampu rem, rem depan dan belakang, lampu sein dan dua buah kaca spion.

Meminjam atau Meminjamkan
Meminjam atau meminjamkan motor harus hati-hati, pada bulan-bulan pertama memiliki motor pengendara perlu waktu penyesuaian untuk membiasakan diri mengemudikan motor. Hal ini akan bertambah sulit kalau meminjam motor orang lain. Separuh dari kejadian kecelakaan terjadi pada 6 bulan pertama mengemudikan motor.

Kenali Alat Kendali Motor
Kenali seluruh perlengkapan motor sebelum menggunakan motor. Periksalah seluruh motor untuk mengetahui posisi tombol lampu sein, lampu besar, klakson, kunci kontak. Coba pergunakan seluruh peralatan tersebut. Kenali cara kerja gigi percepatan, pedal rem, gas, kopling sebelum menggunakan motor.

Pemeriksaan Sebelum Berjalan
Sepedamotor memerlukan perhatian yang lebih besar dari mobil. Bila terjadi sesuatu masalah pengendara dapat jatuh. Periksalah motor sebelum berjalan seperti tekanan angin ban, ketebalan ban, periksa oli, oli samping ataupun cairan pendingin, periksa juga minyak rem. Periksa apakah semua lampu, besar lampu jauh dan dekat, lampu rem, lampu sein berfungsi dengan baik.

Setelah duduk diatas motor dan motor dihidupkan periksalah apakah kopling berfungsi dengan baik berfungsi dengan baik, rem berfungsi, sesuaikan posisi kaca spion sehingga lalu lintas yang berada dibelakang dapat terlihat dengan jelas dan pastikan klakson berfungsi dengan baik.

Sekali seminggu periksalah seluruh motor dengan baik apakah ada kebocoran, kabel-kabel tidak ada yang , putus atau lepas, periksa juga baut-baut yang longgar serta tegangan rantai/belt.

Sumber: DitJen HubDat, DepHub

Jumat, 10 Oktober 2008

Safety Riding

Menjalankan Motor Dengan Aman #1

Posisi duduk

Untuk dapat mengemudikan dengan baik :

* Ambil posisi duduk yang nyaman, dapat mencapai stang kemudi dengan baik posisi siku tidak lurus tetapi tertekuk sedikit sehingga dapat membelokkan motor dengan sempurna tanpa harus menggerakan pinggang.

* Dapat memegang stang kemudi dengan mantap, genggam hendel sedemikian sehingga dapat menarik tuas kopling dan tuas rem depan dengan baik, stel stang dan kedudukan tuas rem serta kopling pada posisi siku dan tangan kiri dan kanan pada ketinggian yang sama sehingga otot bahu dan tangan seimbang kiri dan kanannya.

* Lutut agar dirapatkan kearah tangki, kecuali pada bebek lutut tidak direnggangkan untuk mempermudah menyeimbangkan dan kestabilan jalannya motor.

* Letakkan kaki pada pedal kaki untuk menyeimbangkan jalannya motor, letakkan posisi kaki dekat pada rem belakang ataupun gigi percepatan sehingga dapat bereaksi dengan cepat bila menghadapi kondisi lalu lintas yang berbahaya.



Membelok

Pengendara motor sering berjalan terlalu kencang ditikungan atau pada saat
membelok yang sering mengakibatkan terpaksa keluar lajur atau masuk ke jalur
lawan atau keluar dari jalan ataupun bereaksi terlalu keras dengan menginjak rem secara mendadak yang dapat mengakibatkan motor tergelincir. Untuk dapat menikung dengan baik harus mengambil langkah:

* Mengurangi kecepatan dengan mengecilkan gas, dan bilamana diperlukan, mengerem dengan kedua rem depan dan belakang

* Amati tikungan atau belokan yang akan dilalui, pilih lintasan yang akan dilalui, arahkan kepala kejurusan yang akan dilalui tanpa menggerakkan bahu serta posisi mata tetap pada bidang datar/horizontal

* Untuk membelok pengendara harus memiringkan motornya untuk mengatasi gaya sentrifugal, pada kecepatan normal pengendara ikut memiringkan badan, dan pada kecepatan rendah hanya motornya saja yang dimiringkan.

* Hindari menurunkan kecepatan pada saat sedang membelok, lebih baik mempercepat perlahan-lahan.



Mengerem

* Jarak pengereman tergantung pada rem mana yang digunakan, rem depan lebih baik dari rem belakang, akan lebih baik kalau menggunakan kedua rem sekaligus karena dapat berhenti pada jarak yang lebih pendek dalam keadaan lebih stabil. Penggunaan rem depan saja atau rem belakang saja pada kecepatan tinggi dapat mengganggu kestabilan jalannya motor terutama pada saat jalan dalam keadaan basah ataupun berpasir, bahkan bisa terjatuh. Untuk itu disarankan untuk menggunakan kedua rem.

* Pada saat ditikungan gesekan dijalan sebagian digunakan untuk mengatasi gaya sentrifugal sehingga gaya pengereman berkurang, dan dapat mengakibatkan slip.


Pemindahan versneling


* Pemindahan gigi versneling harus disesuaikan dengan kecepatan motor melaju, ataupun pemindahan ke gigi yang lebih rendah pada saat menikung, pergantian gigi dapat juga dilakukan pada saat ditikungan, jangan menarik kopling pada saat berada ditikungan kecuali pada saat mengganti gigi versneling. Demikian juga pada saat melalui lintasan yang menurun perlu digunakan gigi yang rendah ataupun pada saat menanjak perlu menggunakan gigi yang rendah untuk memberikan tenaga yang lebih besar.

* Pada saat menurunkan gigi versneling dilakukan pada saat menurunkan kecepatan.

Sumber: DitJen HubDat, DepHub